Kesenjangan Layanan Masih Lebar

Pendidikan anak usia dini bagi anak berusia 0-6 tahun harus mulai menjadi perhatian pemerintah daerah. Bahkan, daerah didorong mewajibkan anak mengikuti pendidikan anak usia dini minimal satu tahun, terutama di usia 6 tahun, agar siap memasuki pendidikan di SD.

Menurut Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ella Yulaelawati, di Jakarta, Senin (31/10), dari 4,76 juta anak usia dini di tahun 2016, separuh di antaranya sudah duduk di bangku SD. Meski usia wajib belajar SD dalam undang-undang dimulai usia 7 tahun, anak usia 6 tahun yang sudah memenuhi syarat, cukup banyak yang sudah bersekolah di SD.

“Usia 6 tahun ini bisa dibilang usia yang tanggung. Ada yang sudah bisa masuk ke SD, tetapi ada juga yang masih di PAUD. Kami mendorong anak usia 6 tahun ini agar bisa dijamin mendapatkan layanan PAUD yang memenuhi standar pelayanan minimal di daerah. Sayangnya, ketentuan ini belum bisa diwajibkan ke daerah,” ujar Ella.

Menurut Ella, perkembangan PAUD di Indonesia cukup pesat, yakni mencapai sekitar 190.000 institusi. Bantuan pemerintah pusat untuk guru PAUD ataupun biaya operasional masih minim, atau belum mencakup semua PAUD yang 90% dikelola atas inisiatif masyarakat. Cakupan layanan PAUD, idealnya dimulai usia 0-6 tahun. Saat ini, laynan PAUD formal dan nonformal berkembang untuk usia 3-6 tahun yang jumlahnya 19 juta lebih anak.

Ella mengatakan, perkembangan PAUD masih seadanya tanpa standar pelayanan minimal. Padahal, intervensi anak usia dini merupakan investasi yang sangat baik untuk menyiapkan generasi lebih handal. “Dengan fokus untuk memastikan anak usia dini terlayani PAUD yang memenuhi standar, yakni diusia 6 tahun, mereka dapat lebih siap untuk belajar di SD. Saatnya semua daerah mendukung komitmen ini,” ujarnya.

Kesenjangan

Kesenjangan layanan PAUD memang masih lebar. Contohnya, Taman Kanak-Kanak GMIT Merpati Timur di Kecamatan Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, kegiatan PAUD masih sederhana. PAUD minim permainan di dalam dan luar ruangan. Padahal, kegiatan PAUD utamanya lewat permainan yang mampu menstimulasi kemampuan kognitif, emosi, dan sosial anak.

Fakta lain, PAUD di lingkungan gereja yang sangat sederhana memberi manfaat bagi cucu Oma Ruth, Epin (5), yang selalu diantarnya. Cucunya percaya diri dan mulai bisa membaca, menulis dan berhitung.

Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Anak Usia Dini Kabupaten Kupang, Yane Emilia Suni mengatakan, ketrika belum ada PAUD, kesiapan belajar siswa rendah. Bahkan ada anak kelas VI yang belum bisa membaca. “Di desa-desa, PAUD masih terbatas, termasuk kemampuan guru dan kesejahteraannya,” kata Emilia.

Dalam Deklarasi Putrajaya saat pertemuan Asia Pasifik soal PAUD pada Juli lalu, program PAUD harus holistik dan terintegrasi dengan perlindungan anak, kesehatan dan nutrisi, stimulasi dan belajar dini, serta dukungan keluarga dan komunitas.

Sementara itu, hasil  dari Universitas Cambridge dlam riset “Kualitas PAUD: Kajian Internasional dan Panduan bagi Pembuat Kebijakan”, PAUD berkualitas tinggi mempengaruhi perkembangan akademik anak, emosi, dan kesejahteraan sosial yang lebih kuat daripada fase pendidikan apapun. Prinsip PAUD untuk menstimulasi anak dalam suasana yang menyenangkan dan penuh permainan.

“Hindari untuk terlalu dini secara formal menekankan pada pengajaran membaca , menulis, dan menghitung. Inisiatif anak harus didorong lewat permainan yang kaya dan beragam,” kata David Whitebeard, salah seorang anggota tim peneliti.Penelitian itu didukung World Innovation Summit Education.

Dikutip dari Harian Kompas edisi 1 November 2016