Anggunpaud – “Berbanggalah menjadi seorang guru. Sebab di tangan para guru, pamong, dan tenaga kependidikan, masa depan bangsa menjadi taruhan. Melalui anak-anak peserta didik di sekolah, di sanggar-sanggar belajar, kita akan menentukan masa depan bangsa. Tidak ada sosok sukses yang tidak melewati sentuhan seorang guru. Kita bisa berdiri tegak saat ini juga karena pernah ditempa oleh para guru”.

Demikian cuplikan pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang disampaikan dalam pidato Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November sebagai bentuk penghargaan kepada sosok guru sebagai  “Pahlawan tanpa tanda jasa.”

Tanpa figur pendidik, kita bukanlah apa-apa, guru adalah pembentuk insan cendikia. Di tangan merekalah masa depan bangsa ini ditentukan dan akan lahir pahlawan pembangunan yang kelak mengisi ruang-ruang publik di negeri ini.

Hari Guru Nasional menjadi momentum untuk merefleksikan keberadaan para pendidik, termasuk membandingkan guru masa kini dengan pendahulunya. Kondisi guru saat ini sudah berbeda, guru masa kini tidak hanya yang mengajar di kota-kota besar namun hingga di pelosok desa kehidupannya lebih sejahtera.

Kebijakan sertifikasi guru yang diluncurkan pemerintah sejak tahun 2006 lalu berimplikasi  pada peningkatan kesejahteraan. Guru yang dinyatakan lulus sertifikasi maka otomatis akan memperoleh berbagai tunjangan sesuai dengan kondisi dan tantangan di tempat guru mengajar.

Peningkatan kesejahteraan guru diharapkan akan memberikan dampak positif pada peningkatan profesionalisme guru dalam menularkan pengetahuan kepada peserta didik. Guru harus menyesuaikan diri, mengikuti perkembangan zaman dalam memberikan metode pembelajaran kepada siswa siswi.

Kenyataan, peningkatan kesejahteraan guru belum diimbangi dengan peningkatan kinerja guru dalam kontribusi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Banyak guru masih belum beranjak dari metode-metode lama dalam mengajar dan belum melakukan inovasi yang dapat meningkatakan kemampuan siswa. Kondisi tersebut diakui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam pidatonya pada Hari Guru Nasional, bahwa hingga kini profesionalisme guru di Indonesia masih belum memenuhi harapan.

“Masih diperlukan upaya-upaya yang lebih keras agar pekerjaan guru di Negara kita betul-betul sebagai pekerjaan professional di masa yang akan datang. Pemerintah selama ini telah mengupayakan banyak hal agar para guru semakin profesional. Namun upaya itu akan sia-sia belaka tanpa keinginan keras dari pihak guru itu sendiri,” ujar Mendikbud.

Di tengah tuntutan untuk lebih profesional,  guru di Indonesia masih menghadapi tantangan  dari perubahan zaman. Pemahaman sosok guru untuk “digugu dan ditiru”, yakni sebagai sosok yang dihormati dan diteladani oleh siswa, orang tua siswa  dan lingkungan sekitar telah ternodai. Dalam beberapa tahun terakhir, peristiwa kriminalisasi terhadap guru yang dilakukan baik oleh siswa maupun orang tua siswa terus meningkat. Harkat guru ikut tercabik.

Guru memang bukan sosok sempurna. Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil profesi menjadi guru, maka ia harus siap untuk menjadi bagian dari  kehidupan individu-individu yang dididiknya dan siap menerima tantangan dari perubahan zaman. Profesi guru tetaplah menjadi terhormat. Digugu itu berarti murid wajib patuh kepada guru dan menjalankan apa yang disampaikan guru. Ditiru itu berarti siswa harus meniru perilaku guru oleh karenanya guru harus bersikap arif dan bijaksana.***

Ilustrasi Gambar dari: http://google.com