Penerbitan buku pelajaran Pendidikan Anas Usia Dini (PAUD), dalam berbahasa daerah sebanyak 53 buku,  akhirnya tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). Recor itu diambil dalam acara  Festival Kreativitas Anak Usia Dini 2017, yang digelar di Puri Ardya Garini Halim, Rabu (10/5).

Sebanyak 2.017, siswa-siswi dan guru PAUD seluruh indonesia memperingati Gerakan Literasi Nasional yang saat ini menjadi, tema sentral Hari Pendidikan Nasional 2017.

Kegiatan ini juga, dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas, Harris Iskandar dan perwakilan MURI.

Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, Ella Yulaelawati, mengatakan, pengenalan pra keaksaraan dengan menerbitkan bahan belajar dan bermain menggunakan bahasa ibu ini, bertujuan untuk memudahkan komunikasi dan interaksi serta menunjang pengembangan kemampuan berbahasa, kemampuan sosial dan koginitif serta menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya.

“Lewat kegiatan ini, siswa PAUD ingin menghargai dan merayakan keberagamanan bahasa ibu. Buku bahasa ibu bahan belajar sambil ber­main ini dapat mengembang­kan potensi anak usia dini dan menumbuhkan budi pekerti. Untuk itu disusun bahan belajar sambil bermain yang dapat di­gunakan pada pendidikan anak usia dini (PAUD). Bahan belajar sambil bermain ini terdiri atas lagu, buku cerita dan video tari,” ungkap Ella Yulaelawati, saat menghadiri festival Festival Kreativitas Anak Usia Dini.

Adapun  53 cerita berbahasa ibu yang dibukukan tersebut antara lain; bahasa Padang Solok, Sunda, Betawi, Tasik, Pekalongan, Tegal, Jogya. Cianjur, Tanggerang, Lampung, Madura, Bogor, Pandeglang, Solo, Surabaya, Bali, Sasak, Minang, Bekasi, Cirebon, Sukabumi, Garut, Subang, Indramayu, Badui, Banten, Serang, Kangean, Kediri, Banyuwangi, Banda Aceh, Aceh Selatan, Batak Karo, Batak Toba, Simalungun, Melayu, Palembang, Banjar, Dayak, Sanggau, Minahasa, Manado, Kaili, Bugis, Makassar, Mandar, Ambon, Smawa, Bajo, Tolaki, Kupang dan Dani.

Penerbitan buku ini, lanjutnya dirasakan sangat positif dan mampu memberikan kesem­patan kepada anak-anak yang memiliki kecerdasan linguistik (bahasa) untuk menyampaikan cerita dengan cara unik, asyik, dan menyenangkan. Terlebih yang diceritakan cerita yang sudah sangat dekat kehidupan anak-anak. (eru)

Sumber: news.indopos.co.id