Taicing : Layanan PAUD tersedia di 58.254 Desa, masih ada 27,65 persen desa belum tersentuh.

Berbagai upaya terus dilakukan Direktorat Jenderal Paud dan Dikmas untuk meningkatkan akses dan mutu layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di seluruh Indonesia termasuk di daerah terdepan, terluar dan terisolir atau kawasan 3T serta daerah-daerah yang belum terlayani.

Untuk itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama beberapa mitra pembangunan di Indonesia antara lain UNICEF, ADB, EU, DFAT, ACDP, Asia-Pacific Regional Network for Early Childhood (ARNEC) dan Bank Dunia mengadakan sebuah lokakarya (workshop) yang membahas Kebijakan Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) pada tanggal 18-19 Juli 2017.

Lokakarya ini bertujuan untuk mendukung peningkatan akses serta kualitas PAUD di Indonesia. Hal dapat terwujud jika ada kebijakan yang mendukung  PAUD dengan mengacu kepada kesepakatan internasional seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDG) atau Deklarasi Pendidikan 2030 di Incheon pada tahun 2015, dimana para menteri pendidikan di dunia berkomitmen untuk mendorong adanya pendidikan pra-dasar wajib dan bebas biaya minimal satu tahun.

Saat ini masih ada sekitar 5.316.120  anak atau sekitar 27,65 persen anak usia 3 hingga 6 tahun yang belum mengenyam pendidikan anak usia dini. Sedangkan dari data desa masih ada sekitar 24.684 desa diseluruh Indonesia yang belum ada layanan pendidikan PAUD .

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Harris Iskandar menegaskan Indonesia sudah memiliki beberapa perangkat regulasi dan kebijakan berkaitan dengan peningkatan akses dan kualitas pengembangan anak usia dini antara lain Perpres No.60/2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Integratif, Permendikbud No.137/2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Permendikbud No. 84/2014 tentang pendirian PAUD, dsb.

Dikatakan, peningkatan kualitas pengembangan anak usia dini-pun kini telah menjadi komitmen dunia. Agenda Perkembangan Anak Usia Dini telah masuk dalam agenda PBB melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDG). Pada tahun 2030, dunia berkomitmen memastikan semua anak perempuan dan laki-laki memperoleh akses terhadap perkembangan, perawatan, dan pendidikan anak usia dini bermutu sehingga mereka siap untuk memasuki pendidikan dasar.

“Secara khusus di bidang pendidikan juga ada kesepakatan internasional seperti Deklarasi Pendidikan 2030 di Incheon pada tahun 2015, dimana para menteri pendidikan di dunia berkomitmen untuk mendorong adanya pendidikan pra-dasar wajib dan bebas biaya minimal satu tahun,” katanya.

Fokus Pemerintah

Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, Ella Yulaelawati dalam kesempatan itu menegaskan pentingnya PAUD berkualitas yang responsif gender sebagai elemen penting guna meningkatkan potensi dan membentuk karakter anak laki-laki menjadi pribadi yang lebih baik.

Dikatakan, membangun PAUD yang berkualitas sudah menjadi kebutuhan masyarakat dan komitmen internasional. Kian banyak penelitian yang mengungkapkan pentingnya PAUD berkualitas untuk pengembangan karakter dan masa depan anak.

Ella mengutip hasil penelitian James Heckmen, peraih nobel ekonomi dari Universitas Chicago, menyebutkan bahwa imbal hasil investasi pada pendidikan usia dini sangat besar dibanding jenjang pendidikan lain. “Heckmen menyebut bahwa investasi sebesar 1 USD pada PAUD yg berkualitas akan memeroleh imbal hasil sebesar 7 USD,” kutip Ella.

PAUD berkualitas berarti tersedianya tempat yang aman, sehat dan nyaman bagi tumbuh kembang serta  belajar anak. PAUD berkualitas juga bercirikan memiliki pendidik yang kompeten. “Bila seluruh anak mendapat PAUD yang berkualitas, ini akan menjadi titik awal yang cerah dan modal memasuki jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih gemilang,” ucap Ella.

Dikatakan, saat ini rendahnya jumlah dan kualitas layanan PAUD disebabkan antara lain belum semua orangtua dan masyarakat menyadari pentingnya PAUD. Selain itu, lanjutnya, masih terbatas jumlah PAUD yang ada di daerah 3T serta daerah terpencil di sejumlah tempat. Tidak semua lembaga PAUD bisa memberikan layanan bagi anak-anak disekiyarnya. Terakhitr, terbatasnya sarana, prasarana dan fasilitas yang dimiliki lembaga PAUD.

Perluasan akses serta peningkatan kualitas PAUD menjadi sangat penting, karena usia 0 hingga 6 tahun merupakan tahap perkembangan yang paling penting dan kritis pada siklus kehidupan manusia. Pada masa ini otak anak berkembang sangat cepat dan kualitasnya akan bertahan seumur hidup. Hasil kajian dari beberapa lembaga pengembangan termasuk Bank Dunia memperlihatkan bahwa intervensi layanan PAUD memberikan manfaat terbesar bagi anak bahkan dalam jangka pendek khususnya kesiapan untuk masuk pendidikan dasar dibanding bagi mereka yang belum terlayani.