“Saya anak Indonesia, Saya Gembira” menjadi slogan yang begitu manis tema Peringatan Hari Anak Nasional 2017. Menjadi tantangan bersama untuk membuat anak Indonesia penuh suka cita ketika berada di lingkungan Sekolah.

Seperti diketahui bersama anak usia 0 hingga 6 tahun merupakan tahap perkembangan yang paling penting dan kritis pada siklus kehidupan manusia. Pada masa ini otak anak berkembang sangat cepat dan kualitasnya akan bertahan hingga seumur hidup. Sehingga pengembangan anak sejak usia dini dirasakan sangat mendesak dan penting, baik melalui stimulasi dini, kesehatan dan pengasuhan secara holistik sehingga anak dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan-nya.

Indonesia sudah memiliki beberapa perangkat regulasi dan kebijakan berkaitan dengan peningkatan akses dan kualitas pengembangan anak usia dini antara lain Perpres No.60/2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini yang Holistik dan Integratif, Permendikbud No.137/2014 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Permendikbud No. 84/2014 tentang pendirian PAUD, dsb.

Peningkatan kualitas pengembangan anak usia dini-pun kini telah menjadi komitmen dunia. Agenda Perkembangan Anak Usia Dini telah masuk dalam agenda PBB melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDG). Pada tahun 2030, dunia berkomitmen memastikan semua anak perempuan dan laki-laki memperoleh akses terhadap perkembangan, perawatan, dan pendidikan anak usia dini bermutu sehingga mereka siap untuk memasuki pendidikan dasar.

Secara khusus di bidang pendidikan juga ada kesepakatan internasional seperti Deklarasi Pendidikan 2030 di Incheon pada tahun 2015, dimana para menteri pendidikan di dunia berkomitmen untuk mendorong adanya pendidikan pra-dasar wajib dan bebas biaya minimal satu tahun.

Pada saat ini keikutsertaan anak-anak pada program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) meningkat pesat di tingkat Asia dan dunia. Estimasi persentase anak-anak berusia 3-6 tahun pada layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia saat ini sudah mencapai lebih dari 72% yang sebagian besar mendapatkan layanan PAUD yang berbasis masyarakat lokal di lebih dari 58.000 desa.

Butuh satu kampung untuk membesarkan seorang anak, pemerintah tidak akan sendirian dalam meningkatkan akses dan kualitas Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia. Sehingga peran serta aktif dari masyarakat termasuk mitra pembangunan juga diharapkan.

Menteri PPPA Yohana Yembise menegaskan tingkah laku anak pada masa depan, tentunya dipengaruhi oleh perilaku para orang tua dan lingkungan terdekat termasuk pola hidup dan pola makan mereka. “Baik dan buruknya keluarga, akan menjadi cerminan bagi masa depan anak,” ujar Yohana.

Oleh karena itu, kemudian wajar jika ia ingin agar tak ada lagi informasi yang keliru terutama dalam upaya pemenuhan gizi pada anak. Sebab kerap kali anak-anak dengan mudah terpapar informasi dan makanan yang tidak cocok untuk mereka.

Tokoh pemerhati anak Seto Mulyadi pun sepakat bahwa agar anak Indonesia gembira, maka mereka harus sehat, cukup gizi, dan terjaga dari informasi keliru soal makanan sehat. Pria yang akrab disapa Kak Seto itu sepakat anak-anak Indonesia berhak untuk sehat dan gembira tidak sekadar pada jargon atau tema dalam sebuah perayaan.

Sebab, kegembiraan yang hakiki hanya dapat dihadirkan manakala tubuh anak-anak sehat karena terpenuhinya kebutuhan gizi dan bahagia saat mereka belajar di PAUD.